
Jika terdapat semboyan, “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”, maka Muhammadiyah perlu menerapkan semboyan, “organisasi yang besar adalah organisasi yang menghargai jasa para pendirinya.” Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modernis terbesar di kawasan Asia Tenggara memang terlalu mengabaikan sejarahnya sendiri. Diktum “bekerja tanpa pamrih” atau “beramal tanpa mengharap pujian” memang menjadi ciri khas tersendiri bagi para aktivis Muhammadiyah.
Secara normatif, diktum tersebut memang dapat dibenarkan. Apalagi, Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah yang bertujuan memberantas kultus dan kemusyrikan. Budaya kultus dan pamer (mengharap pujian) tidak dikenal di Muhammadiyah. Tetapi diktum tersebut menjadi celah kelemahan tersendiri ketika Muhammadiyah harus menjelaskan latarbelakang sejarahnya sendiri. Harus disadari, para aktivis Muhammadiyah yang duduk di jajaran struktural maupun Amal Usaha Muhammadiyah banyak yang a-historis dengan latarbelakang berdirinya sejarah organisasi ini.
Muhammadiyah tidak lahir di ruang kosong. Persyarikatan ini lahir dalam konteks budaya feodalisme di lingkungan kraton Yogyakarta. Pada saat yang bersamaan, budaya kolonial sedang mengangkangi tanah Hindia. Muhammadiyah lahir ketika kaum intelektual boemipoetra sadar dan tergerak untuk membela nasib bangsa sendiri. Dalam konteks ini, latarbelakang kelahiran Muhammadiyah merupakan matarantai kebangkitan nasional. Oleh karena itu, tokoh-tokoh perintis Muhammadiyah adalah para pejuang revolusioner yang memiliki wawasan kebangsaan luas. Dengan demikian, para aktivis Muhammadiyah harus memahami sejarah dan memiliki wawasan kebangsaan yang luas agar rel sejarah persyarikatan modernis ini tidak terputus.
Dalam konteks yang lebih spesifik, kelahiran Muhammadiyah ketika bangsa ini memasuki zaman pergolakan ideologi politik. Meminjam istilah Takashi Shiraishi, Muhammadiyah lahir di ”zaman bergerak.” Yaitu zaman pergolakan ideologi antara tahun 1912-1926 yang sangat menentukan bagi terbentuknya visi kebangsaan Indonesia saat ini.
Tiga ideologi besar yang bersaing merebut dominasi peta perpolitikan nasional pada zaman bergerak adalah Nasionalisme, Islamisme, dan Komunisme. Organisasi yang mengusung ideologi Nasionalisme adalah BO, Perhimpunan Habiprojo, Perhimpunan Goena Rekso, dan lain-lain. Organisasi yang mengusung ideologi Islamisme adalah Muhammadiyah, al-Irsyad, dan lain-lain. Adapun organisasi yang mengusung ideologi Komunisme adalah ISDV, IJB, dan lain-lain.
Tiga ideologi besar di atas bersatu dalam wadah Sarekat Islam di bawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Dalam struktur Centraal Sarekat Islam (CSI) sejak tahun 1914-1926, kubu Nasionalisme diwakili oleh kelompok Soerjopranoto dan kawan-kawan. Kubu Islamisme diwakili oleh Tjokroaminoto dan kawan-kawan (termasuk Haji Fachrodin). Adapun kubu Komunisme diwakili oleh Semaoen dan kawan-kawan.

Terhitung sejak tahun 1914, K.H. Ahmad Dahlan, ketua hoofdbestuur Muhammadiyah, mendapat posisi sebagai penasehat CSI. Memasuki tahun 1919, Haji Fachrodin menjabat sebagai bendahara CSI. Pada tahun 1920, Haji Fachrodin mendapat amanat mengemban posisi sebagai ketua Bagian Tabigh pertama di Muhammadiyah.
Dengan membaca peta politik pada zaman bergerak dan memahami keterlibatan tokoh-tokoh Muhammadiyah di pentas perpolitikan nasional pada waktu itu jelas sudah menggambarkan bahwa Muhammadiyah sangat terbuka dan akomodatif menyikapi kehadiran berbagai macam pemikiran dan faksi-faksi politik. K.H. Ahmad Dahlan dekat dengan kelompok ulama tradisionalis di Banyuwangi, Pacitan, Semarang, dan lain-lain. Pendiri Muhammadiyah ini juga sangat dekat dengan kelompok ulama modernis di Batavia, Pekalongan, Bandung, dan lain-lain. Bahkan, K.H. Ahmad Dahlan juga membuka komunikasi dengan kelompok Komunis (ISDV).
Yang paling fenomenal dan menjadi fokus utama penulisan buku ini adalah peran Haji Fachrodin, ketua Bagian Tabligh pertama di Muhammadiyah yang sangat dekat dengan agen-agen ISDV. Bahkan, dia sendiri termasuk pengurus ISDV cabang Yogyakarta. Haji Fachrodin juga bergabung dalam IJB (sehaluan dengan ISDV) yang didirikan oleh Mas Marco Kartodikromo. Dengan membaca sepak terjang Haji Fachrodin yang pernah terlibat di organisasi-organisasi pergerakan kiri jelas mencerminkan karakter, pemikiran, dan tindakan yang revolusioner.Buku ini ditulis untuk melengkapi kepustakaan tentang Muhammadiyah. Sampai sejauh ini, buku-buku yang membahas tentang riwayat hidup Haji Fachrodin masih sedikit. Berdasarkan hasil penyelusuran tentang buku-buku yang membahas riwayat Haji Fachrodin baru ditulis oleh dua orang, yaitu H.M. Junus Anis dan Sasjardi.
H.M. Junus Anis telah menulis dua buku (biografi) yang dapat memberikan keterangan tahun kelahiran Haji Fachrodin. Pertama, buku Toean Hadji Fachrodin yang diterbitkan pada tahun 1920 oleh penerbit Bintang Islam (Yogyakarta). Buku ini sudah tidak beredar lagi. Kedua, buku Haji Fachrodin karangan H.M. Junus Anis yang diterbitkan oleh penerbit Persatuan pada tahun 1969. Buku ini pun sudah tidak beredar lagi.
Adapun buku Kiai Haji Fakhruddin karangan Sasjardi diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1992. Dalam menulis buku ini, Sasjardi banyak mengambil sumber-sumber dari H.M. Junus Anis. Buku ini pun sudah tidak beredar lagi.
Harus diakui, warga Muhammadiyah memang kurang memperhatikan arsip-arsip sejarahnya sendiri. Banyak arsip sejarah yang hilang atau tercecer. Akibatnya, ketika sejarah Muhammadiyah digugat, warga Muhammadiyah sendiri kesulitan untuk memberikan pembelaan. Ini disebabkan karena arsip-arsip sejarah Muhammadiyah terbengkalai atau barangkali malah hilang. Hilangnya arsip-arsip sejarah Muhammadiyah sama artinya detik-detik kerapuhan organisasi ini. Ketika bangunan sebuah organisasi telah rapuh, maka anggota-anggotanya bakal terancam kehilangan identitas.
Atas dasar inilah, penulisan buku Sang Revolusioner: Sepenggal Riwayat Haji Fachrodin diharapkan bisa mengokohkan kembali bangunan sejarah Muhammadiyah yang mulai terkikis rapuh itu. Kehadirian buku ini diharapkan bisa melengkapi kepustakaan tentang tokoh-tokoh Muhammadiyah. Setidak-tidaknya, kehadiran buku ini bisa menjadi sumber penggalian nilai-nilai sejarah Muhammadiyah otentik sehingga aktivis organisasi ini menemukan identitasnya kembali. (tenggar wardana)
Harus diakui, warga Muhammadiyah memang kurang memperhatikan arsip-arsip sejarahnya sendiri. Banyak arsip sejarah yang hilang atau tercecer. Akibatnya, ketika sejarah Muhammadiyah digugat, warga Muhammadiyah sendiri kesulitan untuk memberikan pembelaan. Ini disebabkan karena arsip-arsip sejarah Muhammadiyah terbengkalai atau barangkali malah hilang. Hilangnya arsip-arsip sejarah Muhammadiyah sama artinya detik-detik kerapuhan organisasi ini. Ketika bangunan sebuah organisasi telah rapuh, maka anggota-anggotanya bakal terancam kehilangan identitas.
Atas dasar inilah, penulisan buku Sang Revolusioner: Sepenggal Riwayat Haji Fachrodin diharapkan bisa mengokohkan kembali bangunan sejarah Muhammadiyah yang mulai terkikis rapuh itu. Kehadirian buku ini diharapkan bisa melengkapi kepustakaan tentang tokoh-tokoh Muhammadiyah. Setidak-tidaknya, kehadiran buku ini bisa menjadi sumber penggalian nilai-nilai sejarah Muhammadiyah otentik sehingga aktivis organisasi ini menemukan identitasnya kembali. (tenggar wardana)
0 Komentar untuk "Pergolakan Muhammadiyah di Zaman Bergerak"